Ular-ular di Dalam Telepon
Semalam aku bermimpi tentang ular.
Bukan ular yang bersembunyi di semak-semak. Bukan ular yang melintas di jalan desa. Bukan ular yang bisa kuhindari dengan mengambil satu langkah ke samping lalu melanjutkan hidup seperti biasa.
Ular-ular itu hidup di dalam telepon genggamku.
Setiap kali aku menggulir layar, mereka muncul lagi.
Kepala mereka.
Sisik mereka.
Mata mereka yang dingin.
Aku menggulir lebih cepat karena aku ingin melihat sesuatu yang lain. Apa saja. Berita buruk. Iklan murahan. Foto makanan. Orang asing yang sedang berlibur. Aku tidak peduli.
Tapi hidup rupanya punya selera humor yang menjijikkan.
Semakin cepat aku menggulir, semakin banyak ular yang muncul.
Lalu aku terbangun.
Atau mungkin dipaksa bangun.
Ada sesuatu yang menekan tubuhku seolah berkata "Cukup."
Aku sempat mengira itu Bella, kucingku.
Lalu aku ingat Bella tidak ada di kamar.
Bella sudah keluar.
Yang tersisa hanya aku, kamar yang gelap, dan detak jantung yang terdengar terlalu keras untuk seseorang yang bahkan tidak sedang berlari.
Aku pindah ke sisi lain tempat tidur.
Seperti orang bodoh yang percaya arah tidur bisa mengubah kenyataan.
Seperti orang bodoh yang masih percaya banyak hal.
Pagi datang seperti biasanya.
Tidak membawa apa-apa selain sakit kepala yang sama.
Jidat.
Ubun-ubun.
Selalu di tempat yang sama.
Seolah ada seseorang yang setiap hari menancapkan paku sedikit demi sedikit ke kepalaku dan sengaja tidak pernah menyelesaikannya.
Aku minum obat.
Aku bekerja.
Aku menjawab pesan.
Aku menyelesaikan tanggung jawab.
Aku melakukan semua hal yang dilakukan orang dewasa agar dunia tetap berjalan.
Tapi rasa sakit itu ikut pulang bersamaku.
Ia duduk di boncengan motorku.
Ia masuk ke rumah tanpa mengetuk pintu.
Ia duduk di ruang tamu seperti tamu tak diundang yang tahu ia tidak akan diminta pergi.
Dan untuk pertama kalinya aku mulai curiga bahwa mungkin yang sakit bukan kepalaku.
Mungkin yang sakit adalah harga diri yang terlalu lama dipaksa menunggu sesuatu yang tidak akan pernah datang.
Karena aku sudah terlalu lama berdiri di depan pintu yang tidak akan pernah dibuka.
Aku sudah terlalu lama berharap pada seseorang yang bahkan tidak sedang berjalan ke arahku.
Dan mungkin itulah mengapa ular-ular itu keluar dari telepon.
Karena semuanya memang dimulai dari sana.
Dari pesan.
Dari kata-kata.
Dari perhatian yang diberikan secukupnya untuk membuat seseorang merasa dilihat, lalu dicabut begitu saja tanpa penjelasan, seperti listrik yang diputus mendadak.
Orang sering bilang luka terbesar datang dari kebencian.
Mereka salah. Luka terbesar datang dari harapan yang tidak sempat mati.
Harapan adalah makhluk paling kejam yang pernah diciptakan.
Ia membuatmu bertahan ketika seharusnya pergi.
Ia membuatmu menunggu ketika seharusnya berhenti.
Ia membuatmu mencari makna pada sesuatu yang sebenarnya sudah menjelaskan dirinya sendiri dengan sangat jelas.
Dan aku muak.
Aku muak karena sebagian diriku masih mencari percakapan yang tidak akan pernah terjadi.
Aku muak karena aku masih bisa mengingat kalimat-kalimat tertentu yang dulu terdengar tulus dan sekarang terdengar seperti brosur diskon yang sudah kedaluwarsa.
Aku muak karena ternyata kata-kata memang murah ketika keluar dari mulut orang yang tidak punya keberanian untuk mempertanggungjawabkannya.
Yang paling menyakitkan ternyata bukan ditinggalkan.
Manusia datang dan pergi setiap hari.
Yang paling menyakitkan adalah menyadari bahwa aku menunggu seseorang yang sebenarnya tidak pernah ada.
Aku menunggu kedewasaan yang tidak ada.
Aku menunggu keberanian yang tidak ada.
Aku menunggu kapasitas yang tidak ada.
Aku menunggu seseorang yang di kepalaku terdengar begitu nyata, sementara di dunia nyata ia terus membuktikan bahwa aku sedang berbicara dengan bayangannya sendiri.
Dan sialnya, menerima kenyataan itu jauh lebih menyakitkan daripada kehilangan orangnya.
Karena kehilangan seseorang itu sederhana.
Mereka pergi.
Selesai.
Tapi kehilangan ilusi?
Itu perang yang berbeda.
Karena ilusi tidak mati sekaligus.
Ia membusuk perlahan.
Setiap hari sedikit demi sedikit.
Sampai akhirnya yang tersisa hanyalah bangkai yang terus kubawa ke mana-mana.
Ke tempat kerja.
Ke perjalanan pulang.
Ke meja makan.
Ke tempat tidur.
Ke dalam mimpi.
Ke dalam ular-ular yang keluar dari layar telepon.
Dan mungkin itulah yang membuat kepalaku terasa seperti akan pecah.
Bukan karena aku kesepian.
Bukan karena aku kehilangan seseorang.
Bahkan bukan karena dirinya.
Melainkan karena tubuhku akhirnya mulai memberontak terhadap sesuatu yang sudah lama diketahui oleh akalku:
Bahwa semuanya sudah selesai.
Bahwa tidak akan ada percakapan besar yang menyelamatkan semuanya.
Bahwa tidak akan ada penjelasan yang tiba-tiba membuat semuanya masuk akal.
Bahwa tidak akan ada momen ajaib ketika seseorang mendadak memiliki karakter yang selama ini tidak pernah ia miliki.
Yang ada hanya kenyataan.
Telanjang.
Dingin.
Kejam.
Dan sangat sederhana.
Aku menunggu terlalu lama. Untuk seseorang yang tidak pernah benar-benar mampu menjadi orang yang selama ini kutunggu.
Lalu aku duduk sendirian di tepi tempat tidur, menatap gelap, dan bertanya kepada diriku sendiri: berapa lama lagi aku akan terus menyeret bangkai sesuatu yang sebenarnya sudah mati berbulan-bulan lalu?
—
The Snakes Inside the Phone
Last night I dreamed about snakes.
Not the kind hiding in the grass. Not the kind crossing some dusty country road. Not the kind you can avoid by taking a step to the side.
These snakes lived inside my phone.
Every time I scrolled, there they were again.
Their heads.
Their scales.
Their cold eyes.
I scrolled faster because I wanted to see something else. Anything else. A dog. A tree. An advertisement for cheap whiskey. A stupid meme. I didn’t care.
But life has a nasty sense of humor.
The faster I scrolled, the more snakes I found.
Then I woke up.
Or maybe something woke me.
Something pressed against my body as if to say, "Enough.”
For a second, I thought it was Bella, my cat.
Then I remembered Bella wasn’t in the room.
Bella had been out hours ago.
There was nobody there.
Just me.
A dark room.
And a heartbeat loud enough to sound guilty.
I moved to the other side of the bed.
Like an idiot who thinks changing sleeping positions can change reality.
Like an idiot who still believes a lot of things.
Morning arrived with the same generosity it had shown me lately: none.
My head hurt again.
The same place.
Forehead.
Top of my skull.
Like somebody was driving a nail in very slowly and taking their time with it.
I took the pills.
I answered messages.
I worked.
I did all the things adults do to keep the machinery running.
The headache came along anyway.
It rode home with me.
Sat behind me on the motorcycle.
Walked through the front door.
Made itself comfortable in the living room without ever asking permission.
After a while, I started wondering if my head wasn’t the thing that hurt.
Maybe it was something deeper.
Something more embarrassing.
Because I’ve been waiting too long for somebody who isn’t walking toward me.
Maybe that’s why the snakes came out of the phone.
Because that’s where all of this started.
A message.
A few words.
A little attention.
Just enough to make somebody feel seen.
Then gone.
No explanation.
No conversation.
No courage.
People like to say the worst wounds come from hatred.
They’re wrong.
The worst wounds come from hope that never got the chance to die.
Hope is like an old dog sitting on a porch waiting for an owner who moved away years ago. Maybe the dog doesn’t know. Or maybe it does.
But loyalty has always been dumber than intelligence.
I’m angry.
Not because I was left behind.
People leave.
I’ve lived long enough to understand that.
I’m angry because I had to watch words lose all value in real time.
I’m angry because I can still remember certain sentences that now sound like expired advertisements.
I’m angry because some part of me still wants a conversation that will never happen.
Not because I need answers.
Not because I need closure.
But because I wanted proof that there was an adult somewhere underneath all those beautiful words.
The saddest thing isn’t that somebody chose to leave.
The saddest thing is realizing that the person you kept waiting for was never coming back because they were never really that person to begin with.
Maybe that’s what’s causing the headache.
Not loneliness.
Not loss.
Not even them.
Just the moment an illusion finally dies, and your body hasn’t received the obituary yet.
So every night it comes back.
Through dreams.
Through snakes crawling out of a screen.
Through the ache sitting in my forehead and the crown of my head like a tenant refusing to move out.
And there I am.
Sitting on the edge of the bed.
Staring into the dark.
Wondering how much longer I’m going to drag around the corpse of something that ended a long time ago.


Comments
Post a Comment