The Groundskeeper's Cathedral
Photo owned by Phil Evenden on Pexels
He wore his hatred like inheritance — polished it, fed it, called it insight. The world was unjust, he said, and unfair, and he was right, mostly, the way a broken clock is right twice a day and still can't tell you what the hell time it is. I mistook the wound for wisdom. I do that. I did it again, like an idiot with a good heart and worse timing.
Hazel eyes are just a color until you've watched them go flat mid-sentence, mid-promise, mid-everything. Then they're a warning you memorized too late, you dumb, hopeful thing.
I kept score of his capacity like it was a currency I could will into existence. Wanting was never the shortage. He wanted — Christ, he wanted — but wanting isn't a muscle, and his had atrophied somewhere before I got there, in some room I wasn't in, built by someone I never met. I kept handing him weight and calling it trust. He kept dropping it and calling it survival. I should've stopped handing things to a man who kept both hands busy holding his own damn grudges.
There was a gypsy in him. Or I needed there to be one, needed a name for the leaving before it left, needed to believe the restlessness was romantic and not just rot with better posture. He moved like a man outrunning something. I stood still like a fool and called it depth. It was just distance, dressed slow and smelling like cologne.
The anger never resolved. Not his, not mine. It just changed shape — his into silence, mine into these pages. Unresolved things don't disappear; they relocate, they fester, they wait for a Tuesday afternoon and a TV show about gypsies to come knocking. Mine lives here now, in ink, where at least it can't ruin anyone's dinner.
I don't hate him. Hatred takes maintenance, and I'm done being his goddamn groundskeeper.
What's left is duller and heavier than hatred. Disappointment doesn't kick the door down. It just moves in quiet, unpacks slow, and stays for exactly as long as you let it — sits across from you at 2 in the afternoon when you meant to be working, and reminds you, gently, without cruelty, that you built a cathedral out of a man who was still deciding if he believed in God, and you never even checked the foundation.
I grieve it the way you grieve a country you can't go back to — not because it was good, but because you were young there, and it was yours, and now it isn't anywhere.
The ache isn't him anymore. It's the version of me that thought love could be a rescue mission. She's the one I'm burying. Not him. He can go find his own damn gravedigger.
Katedral Sang Tukang Kebun
Ia memanggul kebenciannya seperti warisan — dipoles, diberi makan, disebutnya kebijaksanaan. Katanya dunia ini tidak adil, tidak fair, dan ia benar, sebagian besar, seperti jam rusak yang kebetulan benar dua kali sehari, namun tetap tidak bisa memberitahumu pukul berapa sekarang, sialan. Aku keliru mengira luka itu sebagai kedalaman. Aku memang begitu. Dan aku mengulanginya lagi, seperti orang bodoh berhati baik dengan waktu yang paling brengsek.
Mata hazel itu hanya warna sampai kau melihatnya kosong di tengah kalimat, di tengah janji, di tengah segalanya. Barulah itu menjadi peringatan yang kau sadari terlalu lambat, dasar bodoh, dasar penuh harap.
Aku menghitung kapasitasnya seolah itu mata uang yang bisa kuciptakan sendiri kalau aku cukup keras percaya. Yang kurang bukan keinginan. Ia ingin — demi apa pun, ia ingin — tetapi keinginan bukan otot yang otomatis kuat, dan ototnya sudah mengecil jauh sebelum aku datang, di ruangan yang tak pernah kumasuki, dibangun oleh orang yang tak pernah kukenal. Aku terus menyerahkan beban dan menyebutnya kepercayaan. Ia terus menjatuhkannya dan menyebutnya bertahan hidup. Seharusnya aku berhenti menyerahkan apa pun kepada laki-laki yang kedua tangannya sudah sibuk memegangi dendamnya sendiri.
Ada gipsi dalam dirinya. Atau aku yang butuh ia menjadi begitu, butuh nama untuk kepergian sebelum ia benar-benar pergi, butuh percaya bahwa kegelisahannya romantis, bukan sekadar kebusukan yang posturnya lebih baik. Ia berjalan seperti orang yang lari dari sesuatu. Aku diam saja seperti orang tolol dan menyebutnya kedalaman. Itu hanya jarak yang berjalan pelan-pelan dan berbau parfum.
Amarahnya tak pernah selesai. Bukan miliknya, bukan pula milikku. Ia hanya berganti bentuk — miliknya menjadi diam, milikku menjadi halaman-halaman ini. Yang tak selesai tidak hilang; ia berpindah rumah, berkarat pelan-pelan, menunggu suatu siang, dan sebuah serial tentang gipsi, untuk mengetuk pintu lagi. Milikku kini tinggal di sini, di dalam tinta, tempat yang setidaknya tidak bisa merusak makan malam siapa pun.
Aku tidak membencinya. Benci butuh perawatan, dan aku sudah lelah jadi tukang kebun kuburannya.
Yang tersisa lebih tumpul dan lebih berat daripada benci. Kecewa tidak mendobrak pintu. Ia masuk pelan-pelan, membereskan barang-barangnya tanpa terburu-buru, dan tinggal selama yang kauizinkan — duduk di hadapanmu pukul dua siang saat seharusnya kau bekerja, dan mengingatkanmu, pelan, tanpa kejam, bahwa kau telah membangun katedral untuk laki-laki yang bahkan masih ragu apakah ia percaya Tuhan, dan kau tak pernah sempat memeriksa fondasinya.
Aku meratapi ini seperti meratapi sebuah negara yang tak bisa kaudatangi lagi — bukan karena dulu baik, tetapi karena kau dulu muda di sana, dan itu dulu milikmu, dan sekarang sudah tidak ada di mana-mana.
Rasa sakitnya bukan lagi tentang dia. Itu tentang versi diriku yang dulu percaya cinta bisa menjadi misi penyelamatan. Perempuan itulah yang sedang kukuburkan. Bukan dia. Biar ia cari tukang gali kuburnya sendiri.
—
“I’m Already Gone” - A Day To Remember


Comments
Post a Comment