No One Coming Down the Hallway

 

I lie in bed and stare at the ceiling until my eyes bleed red. I’m not thinking anymore—I’m spiraling. Drowning in the ghost of good days that died more than two years ago. I secretly wish I could crawl back to how things were, but my pride is a stubborn bastard that won't let me ask for mercy.


I stare at the cracks in the plaster and loop the same bad tape. What if I hadn't made those stupid, ugly mistakes? Would life be lighter now? Could I have kept my skin intact instead of losing everything, including whatever was left of myself?


The path I picked is getting colder and lonelier by the hour. I chose it, sure, so I don't get the right to sit here and bleed, but where the hell is the light everyone keeps promising at the end of the tunnel? Why can't I swallow the brutal truth that nobody is coming down this dark hallway to save me? It’s just me.


My cat sleeps at the foot of the mattress. My extended family moves around the compound outside. They are the only certain things in a world that guarantees nothing else. I try to be grateful, but the gratitude feels like swallowing broken glass every time the clock ticks. I just wanted one person—one soft place—where I could drop my heavy bones for five minutes and stop fighting the war. But the rearview mirror is completely empty. Nobody is coming. The loneliness eats me alive, slow and steady.


The world was an oyster once, until the shell slammed shut on my fingers. Took me years to swallow that failure. Rock bottom after rock bottom, drowning in a quicksand of my own bitterness. I’ve lost the map, smashed the compass, and I don't have the heart to try again.


My eyelids are lead, but the spiraling won't stop. The voices, the old mistakes, the dead dreams, the persistent ache in my chest—they refuse to let me rest. I’m sick of making decisions. Sick of figuring out how to survive another twenty-four hours. Sick of translating my dark thoughts into polite conversation.


I ask myself if I should just end the whole miserable show right here, pull the plug, and close the curtain. But the air keeps filling my lungs anyway. So I stay put. I lie in the dark, stare at the ceiling, and wait for the sun to burn it all away.




Lorong Lengang Tanpa Penyelamat



Aku terlentang di ranjang, menatap langit-langit sampai mataku berdarah merah. Aku tak lagi berpikir—aku meluncur bebas ke jurang. Tenggelam dalam bangkai hari-hari indah yang sudah mati dan membusuk lebih dari dua tahun lalu. Diam-diam aku ingin merangkak kembali ke masa itu, tapi gengsiku adalah keparat tengil yang menolak berlutut meminta ampun.


Aku menatap retakan pada semen, memutar kaset rusak yang itu-itu saja. Bagaimana kalau aku tidak membuat kesalahan-kesalahan tolol itu? Apakah hidup akan terasa lebih ringan sekarang? Bisakah aku menjaga jiwaku tetap utuh ketimbang kehilangan segalanya, termasuk sisa-sisa diriku sendiri?


Jalan yang kupilih ini makin dingin dan jahanam sepi. Aku yang memilihnya, memang, jadi aku tak punya hak, sialan, untuk duduk di sini sambil merengek. Tapi di mana cahaya keparat yang selalu mereka janjikan di ujung sana? Mengapa begitu bangsat sulitnya menelan kenyataan pahit bahwa tak ada penyelamat yang akan pernah melangkah menyusuri lorong lengang ini? Hanya ada aku.


Kucingku tertidur di ujung kasur. Keluarga besarku bergerak samar di luar kompleks. Mereka adalah satu-satunya kepastian di dunia yang tidak pernah menjamin apa-apa. Aku mencoba bersyukur, tapi rasa syukur ini rasanya seperti mengunyah pecahan kaca setiap kali jarum jam berdetik. Aku hanya menginginkan satu orang—satu tempat teduh—di mana aku bisa merebahkan tulang-tulangku yang remuk selama lima menit saja dan berhenti berperang. Tapi kaca spionku kosong melompong. Tak ada siapa-siapa di belakang. Kesepian ini mengunyahku hidup-hidup, pelan tapi pasti.


Dunia pernah terasa begitu luas, sampai akhirnya cangkangnya menjepit jariku hingga patah. Butuh bertahun-tahun bagiku untuk menelan kekalahan itu. Jatuh dari satu titik terendah ke titik terendah berikutnya, tenggelam dalam lumpur hisap kepahitanku sendiri. Aku kehilangan peta, menghancurkan kompas, dan tak punya sisa tenaga untuk sekadar mencoba lagi.


Kelopak mataku berat seperti timah, tapi kepala ini menolak berhenti berputar. Suara-suara bangsat, kesalahan lama, bangkai mimpi, rasa nyeri yang menghantam dada—mereka menolak memberiku jeda. Aku muak membuat keputusan. Muak memikirkan cara bertahan hidup dua puluh empat jam lagi. Muak menerjemahkan pikiran-pikiran gelapku menjadi bahasa yang sopan agar tak menakuti orang lain.


Aku bertanya pada diri sendiri apakah aku harus mengakhiri pertunjukan sialan ini sekarang juga? Mencabut saklar, menutup kelambu, dan selesai. Tapi udara busuk ini masih saja memaksa masuk ke paru-paruku. Jadi aku tetap di sini. Terlentang di dalam gelap, menatap langit-langit, dan menunggu matahari terbit untuk membakar habis semuanya.

Comments