The Happiest Days of My Life
There's something about those good old days I can't explain better than this.
The days were mostly full of sunshine.
The nights were mostly warm and full of music.
And I was always happier than I am today.
Sure, I had to scrape the bin to find a decent meal, or collect cigarette butts just to get a release — but I never felt lonely. Not once.
When I look back on those days, I didn't really have any of what I have now. Yet they were the happiest days of my life. I lived day by day, never worrying about my future. I just kept moving forward, with no map and no direction. I had one purpose: to live. That was it.
Money, people, jobs — they came and went, and none of it ever bothered me. Until the day I caught my own reflection in the mirror, in some posh corporate building, during a break in a C-level meeting.
"What the fuck have you been doing with your life?"
That was the first question. Then came the next, then another, then hundreds of them. And I didn't have the answers. I still don't. It terrifies me. The reflection demands answers, while I demand the life I used to have.
Then the longing for everything I've lost arrives, demanding affection, asking me to be more attentive, more appreciative. And regret, shame, and guilt are right on cue.
I'm overwhelmed.
Trying so hard to catch my breath.
But they didn't let me. They won't let me.
When I look back on those days, I didn't really have anything I have now. Yet they were the happiest days of my life.
I've been lost, and I've been found.
I didn't understand most of it then, and now I do.
Yet I feel empty. The void knocks on my door again, demanding another hour to sit down and talk.
I ran, and I stopped, and I stooped so low — left my dignity in the sewer and begged for an ounce of love I should never have had to earn.
Then I ran again, and stopped, and stooped low again. But this time, I took my dignity back. I stood up, and I walked away from whatever no longer serves me.
I feel liberated and overwhelmed at the same time. Trying so hard to catch my breath. But they didn't let me. They won't let me.
When I look back on those days, I didn't really have anything I have now. Yet they were the happiest days of my life.
— P.S. Inspired by "Dan Semua" by The Fly
Hari-Hari Paling Bahagia dalam Hidupku
Photo owned by Nuno Malgahaes on Pexels
Ada sesuatu tentang masa-masa indah dulu yang tak bisa kujelaskan lebih baik selain begini.
Siangnya hampir selalu penuh cahaya matahari. Malamnya hampir selalu hangat dan penuh musik. Dan aku selalu lebih bahagia daripada aku yang sekarang.
Memang, aku harus mengais tong sampah untuk menemukan sesuap makanan yang layak, atau memunguti puntung rokok sekadar untuk sedikit lega — tapi aku tak pernah merasa kesepian. Tidak sekali pun.
Ketika kutengok kembali masa-masa itu, aku sebenarnya tak punya apa pun yang kumiliki sekarang. Namun itulah hari-hari paling bahagia dalam hidupku. Aku hidup dari hari ke hari, tak pernah mencemaskan masa depan. Aku hanya terus melangkah, tanpa peta, tanpa arah. Aku punya satu tujuan: hidup. Hanya itu.
Uang, orang-orang, pekerjaan — semuanya datang dan pergi, dan tak satu pun pernah menggangguku. Sampai suatu hari aku menangkap bayangan diriku sendiri di cermin, di sebuah gedung korporat yang mentereng, di sela rapat para petinggi.
"Apa yang sudah kau lakukan dengan hidupmu, hah?"
Itu pertanyaan pertama. Lalu datang yang berikutnya, lalu satu lagi, lalu ratusan. Dan aku tak punya jawabannya. Sampai sekarang pun tidak. Itu membuatku ngeri. Bayangan itu menuntut jawaban, sementara aku menuntut kehidupan yang dulu kupunya.
Lalu kerinduan pada segala yang telah hilang itu datang, menuntut kasih sayang, memintaku untuk lebih penuh perhatian, lebih tahu bersyukur. Dan penyesalan, malu, serta rasa bersalah sudah menunggu giliran, tepat waktu.
Aku kewalahan. Berusaha sekuat tenaga untuk menangkap napas. Tapi mereka tak membiarkanku. Mereka tak akan membiarkanku.
Ketika kutengok kembali masa-masa itu, aku sebenarnya tak punya apa pun yang kumiliki sekarang. Namun itulah hari-hari paling bahagia dalam hidupku.
Aku pernah hilang, dan aku pernah ditemukan. Dulu aku tak memahami sebagian besarnya, dan kini aku memahaminya. Namun aku merasa hampa. Kekosongan itu mengetuk pintuku lagi, menuntut satu jam lagi untuk duduk dan membicarakannya.
Aku berlari, lalu berhenti, dan menunduk begitu rendah — kutinggalkan harga diriku di selokan dan kuminta-minta seucap cinta yang seharusnya tak pernah perlu kuupayakan.
Lalu aku berlari lagi, berhenti lagi, menunduk rendah lagi. Tapi kali ini, kuambil kembali harga diriku. Aku bangkit dan aku pergi meninggalkan apa pun yang tak lagi berguna bagiku.
Aku merasa merdeka, dan kewalahan pada saat yang sama. Berusaha sekuat tenaga untuk menangkap napas. Tapi mereka tak membiarkanku. Mereka tak akan membiarkanku.
Ketika kutengok kembali masa-masa itu, aku sebenarnya tak punya apa pun yang kumiliki sekarang. Namun itulah hari-hari paling bahagia dalam hidupku.
— P.S. Terinspirasi oleh "Dan Semua" karya The Fly.


Comments
Post a Comment