Srinivas: Iba yang Tak Beralamat
Ternyata bukan rindu. Yang tersisa di dadaku namanya iba — dan iba pun butuh alamat untuk sampai.
Aku membenci ini.
Bukan membencimu. Membenci hal yang terus berputar di dadaku, yang tak pernah kuminta datang, yang selalu menemukan jalan pulang ke kepala meski semua pintu sudah kukunci. Tahun ini aku tidak merindukanmu. Aku tegaskan itu bukan untukmu, tapi untuk diriku, karena aku terlalu sering disuruh memanggil sesuatu dengan nama yang salah. Ini bukan rindu.
Yang aku rasakan namanya iba.
Iba pada laki-laki yang menyimpan begitu banyak di dalam, lalu memilih diam ketika satu kalimat saja sudah cukup. Iba pada kita yang sempat ada, lalu kau simpan di kotak dan kau buang ke laut, seolah laut bisa menelan sesuatu yang tak pernah berani kau sebut namanya. Iba pada sebuah kemungkinan yang kau sentuh di bulan Maret, lalu kautinggalkan di ambang pintu seperti sepatu basah.
Dan di situlah letak siksanya.
Marah butuh alamat yang jelas. Iba pun begitu. Tapi kamu tak pernah tinggal cukup lama di satu niat untuk bisa kukirimi apa pun. Maka iba ini berputar, tak menemukan tujuan, lalu kembali padaku — dan aku yang menanggung ongkosnya. Bukan kamu. Kamu tidak di ujung sana. Kamu tidak pernah benar-benar di ujung sana.
Aku mengirim pesan. Sekali. Lalu sekali lagi. Lalu di hari aku mendarat, aku membawa hadiah yang sudah kusiapkan seperti orang bodoh yang masih percaya pada upacara kecil. Tidak ada jawaban. Tiga kali tidak ada jawaban, sepanjang lebih dari setahun. Dan aku tahu — tidak menjawab adalah sebuah jawaban. Aku hanya benci betapa sopannya cara itu untuk berkata tidak.
Aku bilang pada diriku, aku tidak mengejarmu. Aku mengejar penjelasan. Aku berhak tahu kenapa kau melakukan apa yang kau lakukan malam itu.
Tapi tidak ada penjelasan yang sedang dalam perjalanan. Tidak ada, selama setahun lebih. Dan mengejar penjelasan hanyalah cara mengejarmu dengan mantel yang terasa lebih pantas dipakai. Harga diri yang kurasa hilang di depanmu tidak akan kembali saat kamu akhirnya menjawab. Ia kembali pada detik aku berhenti berdiri di depan pintu yang tidak akan dibuka.
Kamu datang dalam mimpiku. Meminta dipeluk. Bilang kamu lelah, bilang kamu ingin pulang hanya padaku, bilang kamu menyesal, ingin merebahkan kepala di dadaku seperti dulu.
Tapi itu bukan kamu. Itu aku. Mimpi itu seluruhnya terbuat dari aku. Kamu tidak sedang berkunjung — aku yang sedang kehilangan, dan kepalaku yang sedang tidur memberi kehilangan itu sebuah wajah, lalu menyalin suaramu untuk mengucapkan semua yang tak pernah berani kauucapkan saat terjaga. Aku pernah tahu ini. Mimpi adalah obahing rasa-ku sendiri, gerak batinku, bukan kabar yang datang darimu. Aku hanya lupa, karena lebih mudah percaya kamu merindukanku daripada menerima bahwa akulah yang merindukan rasa aman.
Aku berhenti memaksa dua orang menjadi satu cerita yang masuk akal. Yang terjadi malam itu nyata. Diammu setelahnya juga nyata. Keduanya benar. Seseorang bisa bersungguh-sungguh di dalam kamar, dan tak sanggup membawanya keluar pintu. Itu bukan kebohongan yang satu dan kebenaran yang lain. Itu hanya kehadiran dan keberlanjutan — dua hal berbeda, dan kamu punya yang pertama, tidak punya yang kedua. Kedekatan bukan kapasitas. Aku sudah pernah menuliskannya, tentang orang lain, dengan kepala yang lebih jernih. Kalimat itu menjelaskan Maret dan diammu sekaligus, tanpa aku harus memilih mana dirimu yang sungguhan. Dua-duanya sungguhan.
Aku marah. Bukan marah yang meledak, bukan pintu yang dibanting. Marah yang capek. Marah yang sudah terlalu lelah untuk berteriak dan hanya ingin berhenti membayar pajak atas perasaan yang tak bisa kukirim ke mana-mana.
Maka aku menulis ini bukan untukmu.
Aku menulis ini supaya aku berhenti memberi makna pada diam yang tidak bertanggung jawab. Supaya aku berhenti mengejar penjelasan yang tak akan pernah lebih benar daripada kalimat yang sudah kupunya. Supaya harapan yang selama ini kuletakkan di tanganmu kuambil kembali, dan kukembalikan ke tanganku sendiri — bukan sebagai hadiah hiburan, tapi karena di situlah satu-satunya tempat ia bisa hidup.
Ini bukan kisah yang belum selesai.
Ini iba yang akhirnya kupanggil pulang. Ke alamat yang benar. Ke diriku sendiri.
Dan aku berhenti menunggu alamat darimu.
Srinivas: Pity Without an Address
It turns out it was never longing. What's left in my chest is pity — and pity, too, needs an address to arrive.
I hate this.
Not you. I hate the thing that keeps circling in my chest, the thing I never asked to come, that always finds its way back into my head even after I've locked every door. This year, I did not miss you. I'll be clear about that — not for you, for myself, because I've too often been told to call things by the wrong name. This is not longing.
What I feel is pity.
Pity for a man who holds so much inside, then chooses silence when a single sentence would have been enough. Pity for the us that briefly existed, the one you put in a box and threw into the ocean, as if the ocean could swallow something you never dared to name. Pity for a possibility you touched in March and left on the doorstep like a pair of wet shoes.
And that is where the torment lives.
Anger needs a clear address. So does pity. But you never stayed long enough in a single intention for me to send you anything at all. So this pity circles, finds no destination, and returns to me — and I'm the one who pays the cost. Not you. You're not on the other end. You were never really on the other end.
I sent a message. Once. Then again. Then on the day I landed, carrying a gift I'd prepared like a fool who still believes in small ceremonies. No answer. Three times, no answer, across more than a year. And I know — no response is a response. I only hate how polite a way that is to say no.
I told myself I wasn't chasing you. I was chasing an explanation. I had a right to know why you did what you did that night.
But there is no explanation on its way. There hasn't been, in over a year. And chasing the explanation is only a way of chasing you in a coat that feels more respectable to wear. The dignity I think I lost in front of you doesn't come back when you finally answer. It comes back the moment I stop standing at a door that won't open.
You came to me in my dreams. Asking to be held. Saying you were tired, saying you only wanted to come home to me, saying you were sorry, wanting to rest your head on my chest the way you used to.
But that wasn't you. That was me. The dream is made entirely of me. You weren't visiting — I was the one grieving, and my sleeping mind gave the grief a face, then borrowed your voice to say everything you never dared to say awake. I knew this once. A dream is the movement of my own feeling, not news arriving from you. I only forgot, because it's easier to believe you missed me than to accept that I was the one missing safety.
I've stopped forcing two men into one coherent story. What happened that night was real. Your silence after was real too. Both are true. A person can mean it inside the room and be unable to carry it out the door. That isn't one lie and one truth. Its presence and follow-through — two different things, and you had the first and not the second. Connection is not capacity. I've written that before, about someone else, with a clearer head. That sentence explains March and your silence at once, without my having to decide which version of you was the real one. Both were.
I am angry. Not the kind that explodes, not slammed doors. Tired anger. Anger too worn out to shout, that only wants to stop paying tax on a feeling it can't deliver anywhere.
So I am writing this not for you.
I'm writing so I stop assigning meaning to irresponsible silence. So I stop chasing an explanation that will never be truer than the one I already hold. So the hope I kept placing in your hands, I take back, and return to my own — not as a consolation prize, but because that is the only place it can live.
This is not an unfinished story.
This is a pity, finally called home. To the right address. To myself.
And I am done waiting for an address from you.




Comments
Post a Comment