Srinivas: Latihan Kehilangan


Aku tidak marah ketika kamu pergi.

Marah membutuhkan alamat yang jelas, sementara kamu tidak pernah benar-benar tinggal di satu niat. Kamu ada, di kasurku, di bahuku, di napas yang menempel lama setelah lampu dimatikan, tetapi tidak pernah hadir sebagai keputusan. Tubuhmu lebih berani daripada kepalamu, dan kepalamu selalu menyimpan jalan keluar yang tidak pernah perlu kamu jelaskan. 


Kita tidur bersama, dan orang-orang menyebutnya kedekatan. Aku tahu itu kebohongan yang disepakati. Dua orang dewasa yang memilih menunda keberanian, lalu menyebut penundaan itu sebagai proses. Kamu menyebutnya mengalir. Aku menyebutnya cara paling sopan untuk menghindari tanggung jawab. Tubuhmu datang lebih dulu dari niatmu, lalu niatmu tidak pernah menyusul. Bukan karena tidak sempat, melainkan karena tidak mau. 


Aku belajar kehilangan dari caramu diam.

Diam adalah bahasa yang kamu kuasai dengan rapi. Kamu tidak perlu berbohong. Cukup tidak mengatakan apa-apa, dan biarkan aku bekerja lembur sendirian di kepalaku, menafsirkan jeda, menyusun alasan, dan memberi makna pada kekosongan yang kamu tinggalkan dengan sengaja. 


Aku menyebutnya pengkhianatan. 

Kamu menyebutnya tidak siap. 

Kita membaca kamus yang berbeda, tapi aku dipaksa menggunakan punyamu.


Ada masa ketika aku masih percaya.

Bukan percaya yang naif, melainkan percaya yang sopan. Percaya bahwa orang-orang dewasa, setelah cukup lama berbagi tubuh dan waktu, akan berani menyebut sesuatu dengan namanya. 


Aku keliru. 

Kamu tidak pernah menyebut apapun. 

Kamu membiarkanku menamai semuanya sendiri, lalu berjalan pergi ketika nama itu mulai menuntut konsekuensi.



Aku sering dianggap terlalu dewasa. Terjemahannya sangat sederhana: aku tahu kapan harus pergi, tetapi masih berharap suatu hari kamu cukup berani untuk membuatku tidak perlu memilih itu. Aku memberi ruang, waktu, dan pengertian–tiga hal yang sering disalahgunakan orang yang takut menentukan arah. Kamu tidak pernah memintanya. Itu benar. Tetapi kamu juga tidak pernah menolaknya. 


Kamu mengambilnya seperti udara, sesuatu yang selalu ada, tidak pernah diminta, dan tidak pernah dianggap bisa habis. 


Yang paling menyakitkan bukan perpisahan.

Yang paling menyakitkan adalah menyadari bahwa kita tidak pernah benar-benar mulai. Tidak ada awal yang bisa kuingat, hanya rangkaian malam yang terasa penting karena aku memaksanya menjadi penting. Kamu ada di sana, dan itu cukup bagimu. Bagiku tidak. Di situlah semuanya selesai, bahkan sebelum siapa pun berani mengakuinya.


Aku tidak menyesali tubuhmu. 

Aku menyesali keheningan yang kamu bawa bersamanya. Keintiman tanpa keberanian adalah bentuk kekerasan yang paling halus. Tidak ada suara tinggi, tidak ada pintu yang dibanting, hanya perasaan ditinggalkan di ruangan yang masih hangat oleh dua orang yang baru saja berpura-pura saling memilih.


Sekarang aku menulis ini bukan untukmu. 

Aku menulis ini agar aku berhenti memberi makna pada diam yang tidak bertanggung jawab. Agar aku ingat bahwa kedewasaan emosional bukan untuk mengalah, melainkan untuk menjaga batas, dan batas tidak tumbuh di tempat yang menolak keputusan.


Ini bukan kisah cinta yang gagal.

Ini latihan kehilangan.

Latihan untuk tidak lagi tinggal di ruang yang tidak pernah disediakan untukku. Latihan untuk berjalan pergi tanpa pengumuman, tanpa pesan panjang, tanpa harapan kamu akhirnya mengerti. 


Jika suatu hari kamu menyadari apa yang kamu tinggalkan, itu urusanmu.

Aku sudah selesai berlatih. 


Srinivas: Practicing Loss

I was not angry when you left.


Anger needs a clear address, and you never truly stay in a single intention. You were there, on my bed, on my shoulder, in the breath that lingered long after the lights were turned off, but you were never present as a decision. Your body was braver than your mind, and your mind always kept an exit ready, one you never felt the need to explain.


We slept together, and people called it closeness. I knew it was a mutually agreed lie. Two adults choosing to postpone courage, then calling that postponement a process. You called it flowing. I called it the most polite way to avoid responsibility. Your body arrived first, and your intention never followed, not because you couldn’t, but because you wouldn’t.


I learned loss from the way you stayed silent.

Silence was a language you spoke fluently. You didn’t need to lie. You only needed to say nothing, and let me work overtime alone in my head, interpreting pauses, arranging reasons, assigning meaning to the emptiness you deliberately left behind.


I called it betrayal.

You called it not being ready.

We read from different dictionaries, but I was forced to use yours.


There was a time when I still believed.

Not a naïve belief, but a courteous one, the belief that adults, after sharing bodies and time long enough, would eventually dare to call things by their proper names.


I was wrong.

You never named anything.

You let me name everything myself, then walked away when those names began to demand consequences.



I am often told I am too mature.

The translation is simple: I know when to leave, yet I still hoped that one day you would be brave enough to make that choice unnecessary for me. I gave space, time, and understanding–three things most often abused by those afraid to choose a direction. You never asked for them. That is true. But you never refused them either.


You took them like air, something always there, never requested, never considered capable of running out.


The most painful part was not the separation.

The most painful part was realizing that we never truly began. There was no beginning I could remember, only a series of nights that felt important because I forced them to be. You were there, and that was enough for you. It was not enough for me. That was where everything ended, long before anyone dared to admit it.


I do not regret your body.

I regret the silence you carried with it. Intimacy without courage is the most subtle form of violence. There are no raised voices, no doors slammed shut, only the feeling of being left in a room still warm from two people who had just pretended to choose each other.


I am not writing this for you now.

I am writing so I can stop assigning meaning to irresponsible silence. So I remember that emotional maturity is not about yielding, but about maintaining boundaries, and boundaries do not grow in places that refuse decision.


This is not a failed love story.

This is an exercise in loss.

An exercise in no longer staying in spaces that were never meant for me. An exercise in walking away without announcements, without long messages, without the hope that you will finally understand.


If one day you realize what you left behind, that is your business.

I am done practicing.

Comments

Popular Posts