Ode untuk yang Gugur dan Terluka
Dari gas air mata Jakarta hingga api di Makassar,
negeri ini bergetar, menanggung luka yang besar.
Suara rakyat bangkit, meski tanpa nama,
jerit mereka tetap nyata.
negeri ini bergetar, menanggung luka yang besar.
Suara rakyat bangkit, meski tanpa nama,
jerit mereka tetap nyata.
Agustus memanggul duka di punggungnya yang rapuh,
mimpi diinjak, kebenaran dikubur kelam dan lusuh.
Affan Kurniawan, dua puluh satu tahun,
pengemudi harapan, kini jadi korban.
mimpi diinjak, kebenaran dikubur kelam dan lusuh.
Affan Kurniawan, dua puluh satu tahun,
pengemudi harapan, kini jadi korban.
Namun dari abu dan air mata rakyat berdiri,
Indonesia akan bangkit, kebenaran takkan mati.
Dengarlah, tikus-tikus busuk yang sedang sibuk bersembunyi: kami tidak akan diam.
Darah ada di tanganmu, kebenaran akan hidup lebih lama darimu.
---
Ode to the Fallen and the Wounded
From Jakarta’s tear gas to Makassar’s flames,
the nation trembles, bearing wounds too great.
Voices rise, nameless but unbroken,
every cry is still real.
August carries sorrow on its fragile back,
dreams trampled, truth buried in the dark.
Affan Kurniawan—only twenty-one,
a rider of hope, now taken.
Umar Amarudin fights on, his body marked by pain,
while the powerful feast inside their cold halls.
Four souls trapped within burning walls,
Makassar weeps, and the whole country mourns.
while the powerful feast inside their cold halls.
Four souls trapped within burning walls,
Makassar weeps, and the whole country mourns.
Yet even in ashes, the people still sing:
Indonesia will rise, for truth never dies.
Indonesia will rise, for truth never dies.
Hear this, you rotten rats hiding in your holes: we will not be silent.
The blood is on your hands, and truth will outlive you.
The blood is on your hands, and truth will outlive you.
Comments
Post a Comment