Random Thoughts #2

August 07, 2013

Lalu,

Kata – kata berpeluru ini meminta dimuntahkan, tepat ketika kedua matamu mengerjap dan desah nafasmu tertahan, karena mendapatiku di pintu depan.

“Ada masalah yang belum kita selesaikan. Dan aku berniat untuk menyelesaikannya malam ini.”

Selama beberapa menit setelahnya, segala hal berpacu begitu cepat, detak jantungku, keringatmu yang mengucur deras serta ribuan kata – kata yang tak sabar ingin dilontarkan bagaikan bola meriam.

“Did you fucked her?”

“You knew I never kiss and tell”

Sebuah kilatan terpencar sebentar di kedua bola matamu, membuatku kembali berasumsi lantas menghakimi.

“Aku kesini bukan untuk menanyakan detail petualanganmu diatas ranjang, hanya menanyakan mengenai perempuan itu, perempuan yang katanya telah banyak meniduri suami orang”

“Aku bukan suamimu toh? Lantas mengapa khawatir?”

“Dia tidak seberharga itu untuk kau tiduri, itu saja.”

Kau bangkit dari dudukmu dan menghampiriku, meletakkan kedua tanganmu di pundakku sambil menatapku. Memalingkan wajahku, tidak berarti aku mampu untuk tidak dapat merasakan tajamnya tatapanmu itu.

“Maaf.”

Aku memilih beranjak dari situ. Memilih untuk meninggalkanmu lagi, kali ini untuk selamanya. Setidaknya bukan aku yang menidurimu, dan meninggalkan bekas luka yang mungkin tidak akan pernah sembuh. Itu bukan perbuatanku, melainkan perbuatanmu.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

“Bagaimana? Bagaimana caranya aku menanyakan hal ini kepadanya?”

Gemetar di sekujur tubuh ini tak kunjung hilang, sudah berkali–kali aku menyesapnya, namun gemetar ini semakin hebat.

“Jangan, kamu tahu aku selalu melarangmu melakukan hal–hal bodoh yang mampu menenggelamkanmu ke dalam masalah dan bahaya yang lebih besar.”

“Kenapa baru sekarang kamu katakan itu kepadaku? Apa pedulimu?”

“Biar bagaimanapun, kamu tetap temanku.”

Teman? Jadi selama ini dia hanya menganggapku sebagai temannya? Teman tidur? Selimut sementara?

“Aku hamil, ini anakmu.”

Sunyi berkepanjangan. Dan gemetar ini tak kunjung mereda. Tidak ada jawaban. Cahaya dari bohlam lampit diatasku meredup, dan dingin ini makin menusuk tulang sum – sumku. Mungkin memang aku tak seberharga itu untuk diperjuangkan.



--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Bukan, ini bukan kamu.
Atau bahkan aku.
Ini bukan kita.
Lantas mereka siapa?
Mengapa terlihat begitu bahagia?


“Akhirnya kamu menikah! Selamat ya!”

“Ku pikir kamu tidak punya nyali untuk mengiyakan lamaran itu”

“Mana mungkin dia mampu menolaknya? Lihat laki–laki itu, sempurna!”


Sempurna?
Bagaimana rupa dari sempurna itu sendiri?
Tidak ada cacat kah?
Menyesatkan.
Sungguh menyesatkan.

“Apa yang lebih membahagiakan dari akan menikahi seorang lelaki impian? Mapan secara mental dan materi, syukuri ini dik.”

Mapan secara mental?
Bagaimana wujudnya kalimat tersebut?
Selalu statis dan stabil kah?
Tidak ada letupan emosi kah?
Membosankan.


Siapa mereka?
Mengapa mereka terlihat begitu bahagia?
Mengapa aku mengenakan baju pengantin ini?

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Resah.
Keresahan ini tak memiliki ujung.
Tiada awal dan tiada akhir.

Resah yang selalu hadir di setiap remah–remah yang dengan rakusnya kau lahap sampai tandas tak bersisa.

Resah.
Seumur hidup selalu menghantuimu melalui wujud dan alasan yang berbeda–beda namun hanya memiliki satu tujuan.

Resah,
Aku menamaimu seperti itu, wahai kau yang selalu mengendap dan beranak–pinak jauh di lubuk hati yang belum dapat disentuh oleh siapapun dan bernyali untuk membebaskannya.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Ada yang terkesiap, kaget, lantas tergopoh keluar dari kotak Pandora yang kuncinya sudah dibuang entah kapan dan dimana.

Satu nama mampu membangkitkan lebih dari seribu kenangan yang dari awal sampai akhirnya turun – naik menggetarkan jiwa dan raga.

Hadir sebentar lalu hilang,
Kembali sebentar lalu hilang,
Tinggal sebentar lalu hilang,
Tak pernah lebih dari hitungan tahun ia memiliki sorot mata yang sama,
Atau bahkan cinta yang sama.

Bagai oase yang tiba-tiba muncul di tengah padang pasir yang panasnya mampu membakar barikade yang sudah dibangun seumur hidup, lantas merobohkan segalanya hanya dalam se-per-sekian detik.

Lantas sekarang musnah, masih ada sisa, namun tak ada yang berkeinginan untuk membangunnya kembali.

Bukan karena gengsi dan harga diri, namun memang sudah tak ingin lagi menipu diri sendiri.

You Might Also Like

0 comments